Thursday, October 16, 2014

Hak Anak-anak dalam Islam ( 2 )

' ' ' Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ... (Quran 66: 6)

Salah satu kewajiban yang paling penting dalam Islam bagi orang tua adalah mencintai dan mengasuh anak-anak mereka. Anak-anak memiliki hak untuk dilindungi,  untuk belajar bagaimana menyembah dan menaati Allah, bahkan Allah memperingatkan manusia untuk melindungi diri dan keluarga mereka dari siksa api.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ... "(Quran 66: 6)

Kelahiran seorang anak, laki-laki atau perempuan, adalah suatu kebahagiaan besar. Dalam Islam ada etiket tertentu untuk menyambut kelahiran seorang anak. Ada sejumlah ritual yang disarankan dari tradisi otentik Nabi Muhammad saw, yang harus dilakukan untuk memastikan bayi yang baru lahir diterima dengan baik oleh masyarakat muslim. Namun, tidak dilakukannya salah satu atau semua tindakan yang direkomendasikan dalam ritual tersebut tidaklah meniadakan hak-hak anak dalam Islam.

Disarankan bahwa orang tua melakukan tahnik dan berdoa untuk anak yang baru lahir. Tahnik adalah mengunyah sesuatu, biasanya kurma atau sesuatu yang manis seperti madu misalnya, kemudian meletakkan atau memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga untuk menguatkannya. Salah satu sahabat Nabi Muhammad, Abu Musa, berkata, " Aku punya bayi laki-laki dan saya membawanya ke Nabi. Dia menamainya Ibrahim, lalu melakukan tahneek dengan kurma dan berdoa agar Allah merahmatinya lalu Nabi memberikannya kembali padaku.

Imam Nawawi mengatakan, dianjurkan untuk melakukan tahnik dengan kurma atau sesuatu yang manis ketika anak baru lahir.  Kurma harus dikunyah sampai menjadi cukup lunak bagi bayi untuk mengisapnya dengan mudah.
Kumandangkan adzan ke telinga kanan bayi segera setelah lahir. Salah satu sahabat Nabi Muhammad melihatnya mengumandangkan adzan di telinga kanan salah satu cucu yang baru lahir.  Anak yang baru lahir juga berhak diberi nama dengan nama yang baik. Nama penting,  karena memiliki makna dan menjadi simbol bagi orang tersebut. Disarankan, anak diberi nama pada hari ketujuh setelah kelahirannya.
Biasanya ayah yang memberi nama untuk anaknya namun para ulama menganjurkan bahwa agar kedua orang tua memilih nama bersama-sama. Yang lebih penting adalah bahwa anak harus diberi nama yang baik, seperti Abdullah atau Abdul Rahman. Nabi Muhammad saw mengatakan "Nama yang paling dicintai  Allah adalah Abdullah (hamba Allah) dan 'Abdul Rahman  " Juga dianjurkan bahwa anak diberi nama para sahaba Nabi, atau pendahulu yang saleh. Nabi Muhammad sendiri menamai anaknya Ibrahim. Dia berkata, "Seorang anak saya  lahir  tadi malam dan aku menamainya dengan nama ayahku Ibrahim." 

Kita dilarang menggunakan nama yang hanya milik Allah, seperti al-Khaaliq (Sang Pencipta) dan al-Quddoos (Maha Suci), atau nama-nama yang tidak cocok untuk  selain Allah, seperti Malik al-Mulook (Raja Segala Raja),  juga dilarang untuk menggunakan nama yang menyiratkan kemusyrikan dan penghambaan kepada selain Allah, seperti 'Abdul-'Uzza, Abdul Ka'bah (Hamba Ka'bah).

Jangan menggunakan nama yang memiliki arti buruk atau tidak menyenangkan, atau yang terdengar aneh, atau akan menyebabkan orang lain mengejek seseorang, atau menyebabkan dia malu. Lebih baik juga untuk tidak menggunakan nama yang berkaitan dengan orang-orang yang dzalim atau tiran. Beberapa ahli juga tidak menyarankan penamaan anak-anak dengan nama malaikat atau nama-nama bab Quran. Nama memiliki makna dan arti tersirat dan makna ini akan memiliki efek pada anak baik atau buruk. Orang tua harus berhati-hati ketika memilih nama yang tepat untuk anak mereka.

Dalam Islam dianjurkan agar orang tua untuk aqikah, menyembelih satu atau dua ekor domba dan mengundang kerabat dan tetangga untuk makan, untuk berbagi dalam acara bahagia tersebut.

Meskipun aqiqah tidak wajib namun mengandung banyak manfaat. Ibn al-Qayyim, mengatakan bahwa aqiqah adalah pengorbanan dimana bayi tersebut ditebus sama seperti Allah ditebus Ismael dengan domba jantan dan akikah adalah pertemuan keluarga dan teman-teman untuk Walimah.

Salah satu ritual yang berkaitan dengan anak-anak yang baru lahir dan bagian dari hak anak-anak adalah sunat. Hal ini wajib bagi bayi laki-laki disunat.
Hal lain yang menjadi tradisi otentik Nabi Muhammad adalah mencukur rambut anak yang baru lahir dan ditimbang beratnya lalu diesetarakan dengan emas atau perak dan diuangkan untuk amal.
Menyambut anak yang baru lahir  lebih dari sekedar perayaan kegembiraan, tapi lebih untuk mengingatkan kita bahwa anak-anak dalam Islam memiliki hak. Apakah orang tua masih hidup atau sudah meninggal, ada atau tidak ada, diketahui atau tidak diketahui anak berhak untuk dirawat dan dibesarkan dalam keamanan, dikelilingi oleh cinta dan hukum-hukum Allah. 
                                    What Islam Says About Children (part 3 of 5): Welcoming the Newborn
                                                  knowingallah.com/index.php/en/articles/article/11377

Thursday, October 9, 2014

Hak Anak-anak dalam Islam ( 1 )

berbagi kebaikan

' ' ' Kolostrum, pra susu atau susu pertama yang berwarna kekuningan yang dihasilkan selama kehamilan dan setelah melahirkan, akan memberikan bayi awal terbaik dalam hidupnya. Susu ibu berubah dari waktu ke waktu sesuai  kebutuhan bayi. Pada hari ketiga sampai kelima kelahiran bayi, ASI memiliki jumlah yang tepat lemak, gula, air, dan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi.

Islam adalah agama yang peduli dengan keadilan dan rasa hormat dan dengan demikian, dibutuhkan hak dan tanggung jawab yang sangat serius. Islam menyatakan bahwa itu adalah tanggung jawab dari masing-masing individu untuk memperlakukan semua ciptaan dengan hormat, kehormatan, dan martabat. Menghormati dimulai dengan mencintai dan menaati perintah-perintah Allah dan dari hal ini mengalir semua perilaku dan standar moralitas yang tinggi yang melekat dalam Islam. Allah mengharapkan kita, untuk merawat anak-anak dengan hormat, memelihara, mencintai dan mendidik mereka. Kalau hak dan tanggung jawab yang serius ini dijalankan akan membuat seseorang untuk mencintai dan menghormati Tuhan.

" Dan barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan " (Quran 24:52)

Anak-anak bukan hanya membutuhkan makan, minum, tidur, mereka juga membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kita tidak boleh hanya memenuhi kebutuhan fisiknya saja dan mengabaikan kebutuhan emosi dan spiritual mereka.

Setelah kelahiran anak, ibu disarankan untuk menyusui. ASI dirancang oleh Allah untuk secara khusus sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan kualitas yang luar biasa dari ASI. ASI memiliki sel untuk melawan penyakit yang disebut antibodi yang membantu melindungi bayi dari kuman, penyakit.

Kolostrum, pra susu atau susu pertama yang berwarna kekuningan yang dihasilkan selama kehamilan dan setelah melahirkan, akan memberikan bayi awal terbaik dalam hidupnya. Susu ibu berubah dari waktu ke waktu sesuai  kebutuhan bayi. Pada hari ketiga sampai kelima kelahiran bayi, ASI memiliki jumlah yang tepat lemak, gula, air, dan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi.

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan." (Quran 2: 233)

Namun, Allah tidak mau menempatkan orang-orang dalam situasi yang sulit, karena itu, bila tidak dapat menyusui kita boleh menggunakan susu formula yang dirancang khusus untuk kebutuhan bayi.

" Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur "(Quran 5: 6)

Begitu mereka sudah cukup dewasa  untuk memahami, anak-anak harus diajarkan untuk mencintai Allah. Hal ini biasanya mudah karena anak-anak secara alami cenderung sudah mengenal dan mencintai Tuhan. Hal ini mudah bagi mereka untuk memahami bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Adalah tugas dan tanggung jawab orang tua atau pengasuh  untuk mengajarkan anak-anak bahwa Allah adalah Satu, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Dia.
Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Quran 31:13)
Orang tua, wali, dan pengasuh bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka cara-cara beribadah dalam Islam. Anak-anak harus diajarkan cara yang benar menyembah Allah dan cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan contoh. Dari saat itu mereka dapat berinteraksi dengan  lingkungan mereka belajar. Bahkan ketika anak yang sangat kecil mendengar azan, ia akan tahu bahwa itu adalah waktu untuk  berhenti sementara dari kesibukan dan memusatkan perhatian mereka pada Allah. Anak-anak belajar dengan mengamati perilaku orang-orang di sekitar mereka.

Dari tradisi Nabi Muhammad saw, kita belajar bahwa itu adalah kewajiban bagi kita untuk mengajar anak-anak kita untuk sholat ketika mereka berusia tujuh tahun dan untuk menegur mereka karena tidak sholat ketika mereka mencapai usia  sepuluh tahun. Kenyataannya adalah, bahwa anak-anak yang tinggal di rumah tangga yang membiasakan sholat dan ibadah yang benar, anak-anak lebih mempunyai keinginan yang tinggi untuk sholat dan beribadah.
Pada usia tujuh tahun anak-anak  harus diajarkan bagaimana solat dengan benar. Pada usia sepuluh tahun anak-anak harus ditegur bila tidak sholat. Apapun disiplin yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga anak mengerti bahwa sholat itu penting. Mengalah saja kepada seorang anak bukanlah suatu pilihan.
Anak-anak harus diajarkan untuk mengamati lingkungan sekitar dalam hal beribadah kemudian diajak melakukan semua kewajiban ibadah lainnya. Anak-anak harus dapat melihat orang-orang di sekitar mereka puasa, dan melakukan tindakan ibadah lainnya seperti membaca Al-Quran. Mereka juga harus memperhatikan pengasuh dan guru  mereka menampilkan perilaku dan moral yang baik. Para sahabat Nabi Muhammad telah meriwayatkan bahwa anak-anak diajarkan dasar-dasar Islam dari usia muda.

Hal ini dipertegas oleh ucapan Rubayyi’ binti Mu’awwidz, “Kami mengharuskan anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa.” Juga ucapan Rubayyi’, “Maka kami membuat sebuah mainan dari kulit untuk mereka. Jika salah satu dari mereka menangis karena merasa lapar, kami menyodorkan mainan kepadanya, sampai tiba waktunya berbuka puasa. Ini  tentunya dilakukan kepada anak yang masih berusia kanak-kanak, tidak dilakukan kepada anak yang sudah besar.

Diriwayatkan dari As-Sa'ib bin Yazid ra dia berkata: Saya dibawa serta berhaji (oleh orang tua saya) bersama Rasulullah Saw ketika saya berumur tujuh tahun. Shahih Bukhari
 
Islam adalah agama holistik. Oleh karena itu, kebutuhan fisik yang berkaitan dengan dunia ini tidak boleh diabaikan. Anak-anak memiliki hak untuk hidup dengan aman dan nyaman, dan memperoleh semua kebutuhan fisik mereka. Tercatat sarjana Islam Imam an Nawawi berkata, "Sang ayah, harus mendidik  anak-anaknya dengan sopan santun dalam segala hal, makan, minum, berpakaian, tidur, pergi keluar rumah, memasuki rumah, naik kendaraan, dll dia harus menanamkan dalam diri mereka atribut orang yang baik, seperti cinta pengorbanan, menempatkan orang lain terlebih dahulu, membantu orang lain, dan murah hati. Ia harus menjauhkan mereka dari karakteristik kejahatan seperti pengecut, kekikiran, kurangnya semangat, dll.  Anak-anak juga harus dilindungi dari bahaya fisik dan segala sesuatu yang mungkin akan mengajak mereka ke arah dosa.

Islam memberikan anak-anak banyak hak dan yang berkaitan dengan spiritual mereka, fisik dan kesejahteraan emosionalnya. 

                                                                             What Islam Says About Children (part 4 of 5): Nurture, Love, and Education
                                                                                                -- http://knowingallah.com/index.php/en/articles/article/11378