Friday, August 15, 2014

Anak-anak adalah Target Perang Israel !

berbagiyangbaik.blogspot.com

Seorang saksi mata menceritakan kisah anak lain yang tewas di kamp pengungsi al-Shati . Dia diserang saat menunggu giliran untuk bermain ayunan pada hari Idul Fitri dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Para dokter melihat bahwa jari-jarinya tertutup rapat. Ketika mereka membuka tangannya, sekeping koin kecil muncul. Menurut teman-temannya, koin itu sedianya akan digunakannya untuk membayar pemilik ayunan ketika gilirannya tiba nanti...Tapi Israel merenggutnya lebih dulu...

Cerita ini bukan fiksi, tapi realitas mengerikan yang diciptakan oleh mesin perang Israel. Jalan-jalan di Gaza menceritakan kisah-kisah dari ratusan anak-anak. Anggota keluarga yang lolos dari kematian belum bisa melepaskan diri dari trauma itu semua. Ini adalah beberapa cerita mereka. 

Gaza, siapa di dunia ini yang akan percaya bahwa pesawat tempur Israel akan mengejar anak-anak yang selamat dari pemboman awal mereka hanya untuk membunuhnya 10 hari kemudian? Ini adalah realitas perang di Gaza dan kisah Ibrahim al-Dawawsa, sembilan tahun , yang tinggal bersama keluarganya di Sheikh Radwan utara Kota Gaza. Jumat lalu sekitar tengah hari, pesawat tak berawak yang menjatuhkan rudal  tepat di atas kepalanya, dan membunuhnya dengan segera. 

Ibrahim pergi untuk melakukan salat Jumat yang ternyata menjadi yang terakhir kalinya. Dia mandi dan mengenakan baju baru, seolah-olah ia merasa bahwa saat kematiannya sudah dekat dan ingin mati dalam keadaan bersuci.

Ini adalah mesin perang Israel yang tidak memiliki belas kasian untuk anak-anak atau manusia. Sangat sederhana, menjatuhkan bomnya di atas kepala orang-orang yang berbondong-bondong ke masjid. Ketika sebuah rudal menghantam Ibrahim, jamaah bergegas ke tempat itu dan menemukan dia tenggelam dalam darahnya sendiri. 

Begitu ibu Ibrahim mendengar suara bom, ia berteriak meletakkan tangannya di dadanya, dan memanggilnya: "Ibrahim, di mana kau anakku?" Seolah-olah seorang ibu ditakdirkan untuk merasa kehilangan anaknya sebelum orang mengabarkan berita kepadanya. 

Dia berlari, untuk mencari kabar anaknya yang pergi beberapa detik yang lalu, dia berteriak: "Ibrahim hilang!" 
Ayah Ibrahim, Abu Jamal, pergi ke rumah sakit untuk melihat jenazah anaknya. Dia menemukannya di tempat tidur dengan tengkorak retak, setengah isinya hilang. Dia mulai berteriak di depan kamera: "Memalukan kalian semua, apa yang dilakukan anak-anak ini sehingga kalian tega membunuh mereka seperti ini. Oh Tuhan! "
Abu Jamal mengatakan kepada Surat Kabar Al-Akhbar bahwa Ibrahim adalah yang tertua dari tiga putra. Dia juga mengatakan bahwa Ibrahim tertembak di lengan kirinya sekitar 10 hari sebelum kematiannya, ketika pesawat tempur Israel menembaki anak-anak di kamp pengungsi al-Shati pada pagi hari Idul Fitri. 

"Hari itu, Ibrahim selamat secara ajaib dan kami bersyukur kepada Tuhan begitu banyak untuk keselamatannya," tambah ayahnya. 

Ayahnya mengatakan bahwa setelah Ibrahim terluka pertama kali, ia menjadi sangat khawatir tentang keselamatan anak-anaknya, terutama Ibrahim. Dia memaksa mereka tinggal di rumah dan mencegah mereka pergi keluar kecuali itu benar-benar diperlukan. "Tapi dia ditakdirkan untuk mati syahid 10 hari setelah cedera awalnya." 

Saksi mata mengatakan rudal menghantam Ibrahim langsung dan di sampingnya adalah temannya Ahmed yang mengalami luka serius. Mereka diserang setelah upaya awal untuk mencapai gencatan senjata yang seharusnya berlangsung tiga hari gagal. 
Dari awal perang, terlihat jelas bahwa anak-anaklah yang membayar harga yang mahal karena mereka menjadi sasaran langsung. Statistik Casualty menunjukkan bahwa jumlah anak yang dibunuh oleh Israel di Gaza adalah lebih dari 430, di samping ribuan lainnya cedera. 
Dalam cerita lain, Israel menyerang anak sembilan tahun di wajah, membuatnya buta dalam hitungan detik, padahal usianya masih muda. Dia adalah Mohammed Badran dari kamp pengungsi al-Nusairat di Gaza tengah. Dia kini berada di unit perawatan intensif di Rumah Sakit al-Shifa dengan harapan bahwa dokter mungkin bisa mengembalikan wajahnya yang telah hancur oleh bom Israel. 

Sembilan anggota keluarga Mohammad hendak pergi tidur pada malam 30 Juli setelah makan malam. Sebuah rudal menyerang rumah mereka, jatuh di ruangan yang berisi tujuh anak-anak, dan meledak di atas kepala mereka. 

Semua terluka tapi cedera Muhammad adalah yang terburuk, ia kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berbicara. Dr. Ayman al-Sahbani, Kepala UGD Rumah Sakit al-Shifa mengatakan kasus Mohammed Badran adalah salah satu yang terburuk yang mereka tangani selama perang. 

Mohammed kehilangan mata kanannya karena pecahan peluru menghantam matanya. Tapi ibunya berharap ia akan mendapatkan kembali penglihatan di mata kirinya meskipun dokter memberitahunya keseriusan kondisinya dan kemustahilan untuk merawat dia di Gaza karena kemampuan dan keterbatasan fasilitas kesehatan di sana. Kini anak itu sedang menunggu izin untuk perawatan di luar negeri mengingat kondisinya yang kritis.

Ketika staf medis membawa adiknya, Imane, untuk tinggal di sisi kakaknya dalam satu ruangan, ia memegang tangannya dan mulai menangis. Dia tidak bisa melihat, tapi ia memegang jari-jarinya erat. 

Setelah mencari Nidal Badran, ayah Muhamad, mereka menemukan bahwa ia juga harus menjalani beberapa operasi. Para dokter mengatakan kondisinya sangat kritis dan beberapa jam kemudian meninggal. Jadi Mohammed kehilangan ayahnya juga, orang yang mencintainya dan merawat dia dalam kehidupan ini. 
Seorang saksi mata menceritakan kisah anak lain yang tewas di kamp pengungsi al-Shati . Dia diserang saat menunggu untuk bermain ayunan pada hari Idul Fitri dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Para dokter melihat bahwa jari-jarinya tertutup rapat. Ketika mereka membuka tangannya, sekeping koin kecil muncul. Menurut teman-temannya, koin itu sedianya akan digunakannya untuk membayar pemilik ayunan ketika gilirannya tiba nanti...Tapi Israel merenggutnya lebih dulu...
Artikel ini merupakan terjemahan dan diedit dari edisi bahasa Arab
dari sumber : globalresearch.ca/how-israel-targeted-the-children-of-gaza/5395908
by : Bayan Abdel Wahad, Al-Akhbar