Saturday, July 19, 2014

Sifat Puasa Nabi

berbagiyangbaik.blogspot.com
' ' 'Agar puasa kita mendapatkan pahala yang terbaik dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus emeneladani bagaimana puasanya nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Silakan download e-book Sifat Puasa Nabi di sini...

Puasa merupakan ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Nabi-Nya, dan merupakan ibadah yang sangat mulia. Diantaranya adalah puasa Ramadhan, dimana kita diwajibkan untuk berpuasa satu bulan penuh, dan puasa-puasa yang lainnya.

Ibadah puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mukmin adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam QS. Al- Baqarah/2: 183. Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran/3: 146. Di antara hikmah dan faedah puasa selain untuk menjadi orang yang bertakwa adalah sebagai berikut :
  • Untuk pendidikan/latihan rohani
  • Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri
  • Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti
  • Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya
  • Mendidik kesabaran dan ketabahan
  • Untuk perbaikan pergaulan

Orang yang berpuasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.

Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia saja.

Allah berfirman dalam surat [Al-A'Raaf] ayat 31:
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan"
Nabi S.A.W.juga bersabda:
"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."
Tubuh manusia memerlukan makanan yang bergizi. Jika manusia makan berlebih-lebihan sudah tentu akan membawa muzarat kepada kesehatan. Badan bisa menjadi gemuk, yang bisa mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita.

Agar puasa kita mendapatkan pahala yang terbaik dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus emeneladani bagaimana puasanya nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Silakan download e-book Sifat Puasa Nabi di sini

Friday, July 4, 2014

Jangan Sebut Lagi ' Yang di Atas ' !

berbagiyangbaik.blogspot.com
' ' ' Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan Allah Maha Meliputi segala sesuatu...
Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar, bahkan mengucapkan kalimat seperti ini:

"Sudah, kita pasrahkan saja sama Yang Di Atas."
"Inget sama Yang Di Atas!"

Ya, mulai saat ini jangan pernah lagi menyebut Tuhan sebagai "Yang Di Atas" karena tanpa  Anda sadari itu merupakan perkataan yang tidak sopan di hadapan Tuhan (bahkan dapat digolongkan sebagai syirik khafi/halus ! ).  
Mengapa?
Karena frasa tersebut tanpa Anda sadari adalah bentuk personifikasi atau pemakhlukan Tuhan. Karena pengertian dari kalimat itu tidak sesuai dengan salah satu sifat Allah, yaitu Qiyamuhubi Nafsihi,'berdiri dengan sendirinya' yang jika diperdalam, pemaknaannya adalah bahwaTuhan itu tidak bertempat dan tidak mengambil tempat.

Kita saat ini berada di sebuah ruangan (kamar atau rumah).  Di dalam kamar, kita dapat menunjuk lampu itu di atas dan lantai di bawah. Artinya, wujud kita lebih kecil daripada  kamar yang kita tempati. Kita mengambil tempat di dalam kamar. Bumi, planet-planet, galaksi, dan benda langit lainnya mengambil tempat di angkasa raya. Artinya, luar angkasa itu lebih besar daripada benda-benda antariksa itu. 
Di sinilah letak kekeliruan kita ketika mengucapkan frasa Yang Di Atas sebagai kata ganti Tuhan. Jika Tuhan itu benar-benar ada di atas, berarti Tuhan itu lebih kecil daripada angkasa yang maharuang itu. Ini tidak mungkin! Karena Tuhan itu Mahabesar. Allahu Akbar. Bukankah ini amat membuktikan kebenaran sabda Rasulullah,"Adiinul aqli", agama itu (masuk) akal. 

Di sisi lain, berkali-kali di dalam Quran disebutkan bahwa Allah itu meliputi segala sesuatu dan ayat dengan pengertian meliputi.

Q.S. An-Nisa:126 : Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Q.S. Fussilat:54 : Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Q.S. Al-Baqarah:19 : Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Q.S. Al-Baqarah: 115 : Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.

Makna kata meliputi jika dicermati jelas-jelas tidak mengacu kepada pengertian arah, tetapi mengacu pada keadaan menyelubungi. Lebih lanjut, Imam Abdul Qaahir bin Thoohir bin Muhammad al-Baghdadi menulis dalam karangannya yang masyhur "al-Farqu baina al-Firaq" pada fashal ke 3 dalam menerangkan segala usul yang telah disepakati (telah diijma`kan) oleh Ahlus Sunnah wal Jama`ah pada halaman 256 menulis antaranya :

Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah telah ijma` bahawasanya Allah s.w.t. tidak bertempat dan tidak lalu atasNya masa/waktu, bersalahan dengan pegangan golongan al-Hisyaamiyyah dan al-Karaamiyyah yang mendakwa Allah bertempat di arasyNya. Dan telah berkata Amirul Mu'minin 'Ali r.a.: "Sesungguhnya Allah ta`ala telah menciptakan arasy untuk menzahirkan qudratNya dan bukan untuk dijadikan tempat bagi zat-Nya". Dia juga berkata: 
"Dan adalah Allah ta`ala wujud tanpa tempat dan Dia sekarang atas sebagaimana sediakalanya".
Simpulannya, Tuhan itu tidak bertempat dan tidak mengambil tempat. Segala sesuatulah yang mengambil tempat di dalam Tuhan.
Jadi, bagaimana solusinya? 
Langsung sebut saja Nama-Nya: Tuhan atau Allah Swt. (bagi muslimin).

Allahua'lam.
-- pusakamadinah.org